
Pada hari minggu 15 Juni 2008 yang baru lalu, Bandung Heritage mendapat kesempatan dari OnEarth Community untuk mengikuti Geo Tour , menyusuri danau purba Bandung. Saya beserta salah satu anggota Bandung Heritage datang mewakili.
Tour kali ini berbeda dengan tour-tour yang pernah saya ikuti sebelumnya, kali ini peserta tour diajak untuk berwisata sekaligus berpetualang. Tour yang seharusnya dimulai pada pukul 07.00 wib ini terpaksa mundur waktunya dikarenakan adanya kegiatan di jalan Taman Sari sehingga jalan menuju ke sekretariat OnEarth di jalan Kebon Bibit sedikit terhambat, tour akhirnya dimulai pada pukul 08.10 wib, Berangkat dari sekretariat OnEarth menuju Rute pertama yaitu Sanghyang Tikoro dengan dipandu oleh Adi Hardiyono, seorang ahli geologi dengan menggunakan mobil Land Rover.

Sanghyang Tikoro pernah dipercaya sebagai titik tempat bobolnya danau bandung hingga menjadi surut. Gua alam yang terbentuk pada sebuah bukit kapur ini memiliki ketinggian yang lebih rendah dibanding tinggi muka air Danau Bandung saat itu, sehingga disimpulkan bahwa air danau berhasil menerobos keluar dengan menyayat dan menggerus bukit kapur yang relatif lunak ini. Hal lainnya yang mendukung adalah dengan ditemukannya artefak-artefak di utara Kota Bandung yaitu di daerah dago Pakar.
Proses bobolnya Danau Bandung berlangsung sekitar 16.000 tahun yang lalu. Pada masa-masa mengeringnya Danau Bandung antara 16.000-3000 tahun yang lalu. Dataram tinggi bandung berubah menjadi ranca (rawa) yang becek yang menjadi tempat berjejalnya badak-badak dan hewan-hewan lainnya.

Setelah dari sanghyang Tikoro, perjalanan dilanjutkan menuju Gua Pawon, jalan yang rusak tentunya tidak terlalu sulit untuk dilalui oleh landrover seri 3 keluaran tahun 1973 ini.
Pada tahun 2003 sebuah fosil manusia prasejarah ditemukan di salah satu gua di kompleks Gua Pawon, yaitu Gua Kopi dan merupakan fosil manusia pertama yang ditemukan di dataran tinggi Bandung. Diperkirakan bahwa fosil ini adalah fosil homo sapiens paling tua di Jawa bagian barat dengan umur sekitar 5000-8000 tahun. Walaupun belum dilakukan penelitian karbon, perkiraan umur tersebut mengacu kepada penelitian sebelumnya yang menunjukan masa mesolithikum di sekitar Danau Bandung pada 10.000- 40.000 tahun yang lalu.

Dari mulai ditemukannya fosil manusia prasejarah di Gua Pawon, sampai saat ini kondisi lokasi situs ini sangat mengkhawatirkan, disekelilingnya dipasang pagar dan pintu yang di kunci dengan menggunakan kunci gembok, yang tidak seorang pun tahu keberadaan kuncinya... selain itu diatas ditemukannya fosil ini, hanya ditutupi oleh ram kawat sehingga berkesan kumuh, yang lebih parah lagi di lingkungan gua pawon terdapat penggalian batu yang sudah hampir mengikis habis gunung kapur.

Pada pukul 11.20 wib perjalanan dilanjutkan menuju kawah gunung tangkuban perahu dengan menggunakan jalan akternatif, di pertengahan jalan di tengah-tengah perkebunan teh, peserta beristirahat. Setelah shalat dzuhur dan makan siang perjalanan pun dilanjutkan dengan melewati jalan sepanjang perkebunan teh yang membuat peserta berdecak kagum karena melihat pemandangan alam yang begitu indah. Dengan melalui jalan tanah berbatu yang berliku-liku, naik turun dan memasuki hutan akhirnya peserta tiba di sisi lain gunung tangkuban parahu. Namun dikarenakan kondisi jalan yang tidak memungkinkan dilalui oleh landrover, peserta diharuskan untuk jalan kaki untuk menuju lokasi ini

. Di lokasi ini peserta disuguhi dengan pemandangan kawah gunung tangkuban perahu, sayang karena waktu yang sudah menjelang sore menyebabkan udara menjadi semakin dingin dan kabut tebal mulai menyelimuti.
Perjalanan pun dilanjutkan lagi menuju patahan lembang dengan melalui jalan alternatif, yang lagi-lagi jalannya bukan jalan biasa, peserta diajak untuk offroad, sungguh menegangkan sekaligus menyenangkan.
Sebetulnya ada beberapa track atau jalur yang akan dikunjungi, salah satunya adalah Gunung Batu, dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan akhirnya panitia memutuskan untuk kembali ke Bandung, dari lembang menggunakan jalur punclut untuk menuju jalan Kebon Bibit No. 7 diamana Onearth Community bermarkas. Acara pun berakhir pada pukul 19.30 wib.

Geowisata ini sungguh menarik sekali dan bisa menjadi salah satu potensi pariwisata khususnya di Jawa Barat, terlebih lagi tahun ini dicanangkan sebagai ”Visit indonesia years 2008”.
Secara sederhana, geowisata (geotourism) bisa diartikan sebagai usaha memanfaatkan secara maksimal potensi sumber daya geologi dalam bingkai kegiatan kepariwisataan sehingga dapat dinikmati wisatawan. Suatu kegiatan geowisata diharapkan dapat dikemas edemikian rupa sehingga dapat memfasilitasi semangat adventure dan rasa ingin tahu wisatawan, sekaligus mampu mengajak wisatawan untuk menjalani suatu kegiatan wisata berwawasan lingkungan yang tetao mengedepankan kesenangan. Dan diatas semua itu adalah pengutamaan keselamatan.
Upaya sosialisasi geowisata memang diperlukan untuk membantu industri pariwisata dengan menawarkan wisata alternatif brupa kekayaan alam (geologi) sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar tanpa merusak kelestarian lingkungan.
Semoga saja kegiatan seperti ini bisa menjadi pemicu bagi berbagai kalangan untuk dapat meningkatkan dan memanfaat potensi yang ada, tentunya Pemerintah diharapkan dapat lebih pro aktif dan serius menjaga, meningkatkan dan melestarikan potensi pariwisata yang sudah ada dengan melakukan beberapa pembenahan, begitu juga dengan masyarakatnya, mari bahu membahu membangun dan menjaga warisan pusaka (Heritage) kita. Save our Heritage! Our Heritage is in our hands!
-----------***---------------