|
"Langzaam maar zeker zal men ze dan ook naar de Preanger zien verhuizen". (Perlahan tapi pasti, orang akan pindah juga, bermukim ke Priangan).
Burgemeester van Bandoeng 1930.
Kota Bandung memang penuh Sanjung !! Mungkin Ibukota Priangan ini merupakan satu-satunya kota di Indonesia, bahkan mungkin di dunia, yang memiliki lebih dari selusin gelar, predikat atau julukan nan penuh sanjungan, seperti - Paradise in Exile (Abad 18), De Bloem van Bergsteden (Indonesia: Bunganya Kota Pegunungan/ Abad 19), Ibu Kota Priangan (1856), The Sleeping Beauty (1884), Garden of Allah (julukan dari PM Perancis, Georges Clemenceau), Mooi Bandoeng (Bandung Indah), Bandoeng Vooruit (Bandung Maju), Bandoeng Exelcior (Bandung Meningkat), Garden City (1920-an), Kota Pensiunan (1936), Parijs van Java (1920-1940), Groot Bandoeng (Bandung Raya, 1930), Het Intellectueele Cent rum van Indie (Pusat Kaum Intelektual di Hindia, 1921), Europa in de Tropen (1930), Bandung Permai (1950), Bandung Kota Kembang, Bandung Ibukota Asia Afrika (julukan dari PM India Nehru, 1955), Sorga Tukang Jajan, Bandung ATLAS (Aman, Tertib, Lancar, Asri, Sehat/ 1978) dan Bandung "Berhiber" (Bersih, Hijau, Berbunga/ 1983).
Bahkan di tahun 1971, Bandung sempat diejek orang sebagai kota yang semrawut, kotor dan brengsek. Tentu saja, cacian itu sangat menyakitkan hati. Bukan saja Pak Aang Kunaefi, Gubernur Jawa Barat kala itu yang merasa tersinggung, namun juga menjadi keprihatinan seluruh warga kota. Baru di awal tahun tujuh puluhan itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyadari, bahwa Bandung tergolong kota yang terlantar, kurang mendapat perhatian Pemerintah Pusat. Komentar Menteri PU almarhum Ir. Sutami, melukiskan Bandung seperti "gadis manis yang tidak pernah mandi dan bersolek". Padahal bila kita perhatikan perjalanan sejarah Kota Bandung, terutama pada masa-masa de goede oude tijd (masa lalu nan indah cemerlang) yang sering disebut pula sebagai "jaman normal", kota ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan kota-kota lain di Nusantara. Sehingga Gemeente Bandung telah ditetapkan oleh pemerintah Kolonial Belanda sebagai: 1. Pusat Garnisun Militer Belanda semenjak tahun 1908. Tempat kedudukan Departement Van Oorlog (D.V.O.) alias Kementrian Peperangan. Bahkan sejak tahun 1898, pabrik senjata di Surabaya dan pabrik mesiu di Ngawi, dipindahkan ke Kiaracondong Bandung. Yang diawali dengan pemindahan "pusat militer" dari Meester Cornelis (Jatinegara) ke Cimahi pada bulan September 1896. 2. Sejak tahun 1916, Bandung dipersiapkan menjadi Ibukota Nusantara (Hindia Belanda) yang diawali dengan pemindahan kantor instansi pemerintah pusat dari Batavia ke Bandung. Antara lain: Jawatan Kereta Api, PTT, Pekerjaan Umum, Jawatan Geologi, Metrologi, Kantor Keuangan dan Dana Pensiun. Adapun pusat perkantoran in stansi sipil dan departemen pemerintahan, menempati lokasi sekitar Gedong Sate sekarang ini. Dengan demikian, secara global, Kota Bandung tempo doeloe, memiliki fungsi ganda ("Dwi Fungsi") - sebagai Pusat Garnisun Militer dan Pusat Pemerintahan Sipil atau menjadi Ibukota Nusantara. Sayang sekali, pada awal kemerdekaan ini, "nilai lebih" yang dimiliki Kota Bandung pada masa lalu itu kurang dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pemerintah pengelola kota guna pembangunan dan peningkatan kesejahteraan umum. ---------------
Disadur dari Buku Balai Agung di Kota Bandung, Haryoto Kunto, Granesia, 1996 Add as favourites (73) | Quote this article on your site | Views: 612
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |