Kehadiran Arsitektur Indisch merupakan sebuah bukti perpaduan antara budaya barat dengan budaya lokal (timur). Kehadiran arsitektur hibrid terebut bukan saja menjadi bukti perpaduan budaya barat dan lokal/vernakular (timur) di Bandung, namun juga merupakan rekayasa sempurna ketika seni bangunan barat mencoba tanggap terhadap kondisi lokal.
Perkembangan ini tidak lepas dari nama seperti Ed Cuypers, PAJ Moojen dan Henri Maclaine Pont. Ketiganya arsitek yang berhasil merintis wacana dan memadukan langgam arsitektur barat dengan bentuk arsitektur tradisional atau lokal nusantara, yang mana pada perkembangannya kemudian sering disebut sebagai Indo-Europeesche Architectuur Stijl.
Menurut Charles Prosper Wollf Schoemaker, guru besar arsitektur Technische Hogeschool Bandoeng (ITB) tahun 1924-1938, cirri bangunan berlanggam arsitektur Indo-Eropa ini relatif mudah dikenali. Pencarian bentuk arsitektur yang responsif terhadap kondisi iklim dan geografis setempat inilah yang membawa pada seni bangunan baru, yakni Arsitektur Indisch.
Apabila dilihat secara keseluruhan, Henry Maclaine Pont telah membuat sebuah kejutan dan perubahan besar terhadap dunia arsitektur Indonesia pada masa itu dengan pendekatan disain yang diterapkan pada karyanya yaitu kompleks bangunan Technische Hogeschool Bandoeng yang sekarang dikenal dengan ITB (Institut Teknologi Bandung).
Maclaine Pont tidak hanya memberikan impresi yang sangat kuat terhadap gaya Arsitektur Tropis namun juga pada Arsitektur Tradisional Timur, hal ini dapat dilihat pada aplikasi pendekatan kosmis dan sumbu utara selatan yang sangat kuat. Bangunan kompleks Sekolah Tinggi Teknik Bandung merupakan kehadiran arsitektur Indonesia yang memberikan arti penting dalam perkembangan arsitektur Belanda di Indonesia.
Melalui jajak pendapat dan deskripsi oleh para ahli, ciri dari langgam arsitektur Indisch relatif mudah dikenali. Ciri-cirinya antara lain dapat ditemui pada bangunan Technische Hogeschool Bandung yaitu : 1. Bangunan pada umumnya simetris 2. Ritme vertikal dan horizontal relatif sama kuat 3. Kontruksi disesuaikan dengan iklim tropis, terutama pada : a. Pengaturan ruang b. Pengaturan sirkulasi udara c. Pemasukan pencahayaan sinar matahari d. Perlindungan terhadap curah hujan, Dll
Sebagai produk pencampuran dua kebudayaan yangberbeda, arsitektur Indisch di Bandung menawarkan penggayaan baru di dalam khazanah seni bangunan dan seni bina kota.
Sering kali hilangnya bangunan yang telah lama membentuk tatanan lingkungan Kota bandung acap kali luput dari perhatian publik. Kalaupun bertahan, sejumlah besar bangunan itu dapat dipastikan berada dalam komdisi merana. Kiranya tidaklah berlebihan jika bangunan arsitektur indis yang sarat dengan kearifan dalam menyingkapi konteks lokal (teknologi dan iklim) dipahami sebagai bagian dari sejarah perkembangan kebudayaan di Indonesia. Artinya diperlukan usaha lebih kritis dalam menyertakan keberadaan artefak tersebut kedalam kebijakan pembangunan kota, yaitu dengan cara melestarikannya.
Sumber: Adi Putra Utama-Skripsi 20-UNPAR Bandung, 2006 Halaman 17-19.