Pada sekitar ketinggian 800m dari permukaan laut, dua buah prasasti menjadi saksi bisu perjalanan spiritual seorang raja Syam. Namun jejak sejarah Thailand yang terdapat di kawasan bandung utara tersebut terlihat kurang mendapat perhatian serius dari Pemerintah. Hal inilah yang menjadi kesimpulan ketika berbincang-bincang dengan pak Lili yang merupakan kuncen tempat tersebut sejak tahun 1991.padahal tempat tersebut tidak begitu jauh dari terminal dago dan kawasan dago tea house yang selalu menjadi alternative tempat hiburan bagi masyarakat Bandung.

Menurut para ahli sejarah, kedua prasasti batu tulis tersebut merupakan peninggalan Raja Rama V (Raja Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara) yang ditulis pada sekitaran tahun 1818. Raja Chulalonkorn merupakan raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya, pada kunjungannya ke Batavia, ia membawa beberapa souvenir dari kerajaan Syam. Salah satunya adalah patung gajah emas yang kini berada di museum gajah Jakarta. Pada kunjungannya tersebut ia menyempatkan diri untuk melawat ke daerah priangan dan melakukan semedi. Berdasarkan riset yang ditemukan, sekitar 2 bulan beliau berada di daerah tersebut. Dan kemudian meninggalkan prasasti batu tulis tersebut.
Kurangnya kepedulian sudah terlihat dari akses jalan masuk menuju tempat prasasti tersebut. Besi-besi pengaman yang membatasi jalan setapak dengan aliran sungai cikapundung terlihat sudah berkarat dan keropos. Bahkan beberapa diantaranya sudah tidak memiliki besi pengaman. Tangga dan jalan setapak pun sudah tidak layak untuk sebuah lokasi wisata. Pak lili mengakui bahwa sejak tahuun 1992, pertama kali dipugarnyna bangunan prasasti, hingga kini blm ada lagi upaya perbaikan. Kebutuhan paling mendesak yang dirasakan adalah perlunya rekonstruksi beton pada bibir sungai. Mulai gundulnya hutan raya Djuanda menyebabkan banjir selalu menyerang kota bandung, dampak yang terasa bagi prasasti yang tepat berada di bibir sungai cikapundung tersebut adalah sedikit demi sedikit tergerus air. “beberapa tahun kedepan mungkin prasasti ini bakal ada dibawah air”ungkap pak lili merespon bangunnan prasasti yang kini menggantung di atas sungai. “perlu dibuat sebuah rekonstruksi beton, biar kalo banjir tidak kekikis” ujarnya lagi.
Menilik pada Raja Chulalonkorn, beliau adalah raja yang sangat dicintai rakyatnya. dan prasasti ini adalah sebuah asset kebudayaan yang sifatnya mendesak untuk diperhatikan. Kita tentu tidak ingin kalau 2 prasasti batu tulis tersebut hanya tinggal cerita. Bahkan pak Felix, seorang praktisi kebudayaan mengakui bahwa ia dan beberapa kawannya sempat memperbaiki atap bangunan prasasti tersebut, karena tidak adanya kepedulian dari pemerintah setempat. Padahal letaknya tidak begitu jauh dari taman budaya Jawa Barat.
Direktur Eksekutif Bandung Heritage Frances B. Affandy pernah mempertanyakan masalah bantuan dari kedutaan besar Thailand yang dinilai tidak sampai, atau kalaupun sampai tentu jumlahnya sudah jauh berkurang.
Perhatian dan control pada hal ini masih sangat kurang, mengingat asset budaya di kota bandung dan Indonesia umumnya makin terdesak oleh dalih ekonomi dan tangan-tangan serakah. Pak lili diusianya yang telah senja, begitu memaknai sebuah jejak sejarah sebagai warisan untuk anak cucu kita kelak. Lalu bagaimana dengan kita?.***