|
Written by Ir.David B. Soediono.IAI
|
|
Jun 21, 2007 at 02:57 PM |
|
Page 1 of 3 Sejarah Jalan Braga tidak dapat dilepaskan dari sejarah pembentukan dan perkembangan Kota Bandung, terutama daerah pusat kotanya. Ada tiga peristiwa penting di Hindia Belanda yang erat hubungannya dengan Kota Bandung. # Peristiwa Pertama adalah pembuatan Jalan Raya Pos yang membentang melintasi Pulau Jawa dari Anyer di ujung barat ke Panarukan di ujung timur. Jalan Raya Pos tersebut dibuat di masa pemerintahan Gubernur Jenderal H. W. Daendels yang berkuasa dari tahun 1808 - 1811. Di Bandung, Jalan Raya Pos tersebut menjadi cikal bakal dari Jalan Janderal Sudirman, Jalan Asia Afrika, dan Jalan Jenderal A. Yani. Akibat dari pembuatan jalan tersebut pada tanggal 25 Mei 1810, kedudukan Bupati Bandung dipindahkan dari tempatnya semula ke lokasi yang sekarang menjadi rumah kediaman resmi Walikotamadya Bandung, di sebelah selatan Alun-alun. Rumah kediaman Bupati berikut Alun-alun berserta pohon beringan, mesjid, dan penjara adalah elemen-elemen kota tradisional yang merupakan kelanjutan dari kebudayaan Hindu. Dari lokasi inilah perkembangan Kota Bandung dimulai.
# Peristiwa Kedua adalah Politik Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang diberlakukan oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah Perang Diponegoro (1825 - 1830). Perang ini dan peperangan lainnya di bumi nusantara benar-benar menguras kocek Belanda sehingga perlu dicari upaya untuk memulihkan keuangan Pemerintah Hindia Belanda. Tanam paksa ini berlangsung dari tahun 1831 sampai tahun 1870 dan primadona dari Bumi Priyangan yang subur ini adalah kopi, teh, dan kina. Di Kota Bandung tempat penampungan sekaligus tempat pengemasan hasil bumi ini (terutama kopi) berada lebih kurang 1 km. disebelah utara Jalan Raya Pos, yaitu di lokasi yang sekarang menjadi Gedung Balaikota. Gedung pengemasan kopi tersebut dikenal dengan nama Koffie Pakhuis. Jarak dari gudang kopi dan Jalan Raya Pos tentu menjadi sangat penting untuk pengiriman hasil bumi. Jalur penghubung antara kedua tempat tersebut adalah jalan setapak berlumpur yang biasa dilalui oleh pedati kuda dan dikenal dengan nama Pedati Weg (Jalan Pedati). Jalan inilah yang kelak dikenal bernama Jalan Braga.
|