 Hari itu, 10 Januari 1928 kapal “Kertosono” milik Rotterdamsche Llyod, berlabuh di pelabuhan Batavia. Membawa dua puluh tujuh peti kemas besar, berisi Refraktor dobel Zeiss dengan diameter 60 Cm dan panjang 11 meter. Kedatangan kapal kertosono, mengakhiri masa penantian panjang, sejak dibangunanya kompleks observatorium di lembang tahun 1922 dan diresmikan pada 1 Januari 1923 oleh Gubernur Jenderal Mr.D.Fock. Dua puluh tujuh peti kemas ber bobot 30 ton, diangkut perusahaan kereta api negara (S.S.) secara gratis ke Bandung. Selanjutnya dibawa menuju Lembang oleh Batlyon Genie A.D. Tentara Hindia Belanda. Sementara Biro Bangunan Perusahaan Jawatan Kereta Api (S.S.) mendapat tugas membuat bangunan beton ber kubah dengan segala pemasangan istrumennya yang canggih, termasuk bantalan rel untuk memutar kubahnya.(Hidayat.B, 1982) Momen bersejarah sekaligus pembuktian atas janji 'Ru' Bosscha, perintis berdirinya Nederlandh Indische Sterrenkundige (NISV) atau Perhimpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda. Dalam Rapat pertamanya, 12 September 1920 di Hotel Homman Bandung, memutuskan membangun sebuah observatorium untuk memajukan Ilmu astronomi Hindia Belanda. Di pertemuan itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha nama Iengkapnya, berjanji memberikan bantuan pembelian teropong tercanggih kala itu.
Refraktor dobel zeis, didatangkan 'Ru' Bosscha langsung dari Carl Zeiss Jena lengkap dengan Meridian circle dari Askania Werk Jerman tahun 1921. Buah perjalanan keliling Eropa bersama Dr.J.Voute, astronom yang menjadi Direktur pertama Observatorium Bosscha. Dalam rangka berkonsulasi dengan ahli astronomi dunia, sebelum melakukan pembelian teropong tersebut. Teleskop besar dengan buah refraktor berlensa obyektif 60 cm, terdiri atas teleskop fotografis teleskop visual, dikungkung dalam satu tabung berdia meter 1.66 meter. Teleskop ini pada zamannya menduduki urutan ketiga di jenisnya, setelah Melborne,122 cm dan La Plata, 70 cm. Kemampuan pandangannya dapat menyapu hampir semua langit utara dan selatan.
Pada 7 Juni 1928 Teleskop besar teleskop Banberg 37 cm, diserahkan 'Ru' Bosscha kepada Himpunan Ilmu Astronomi Hindia Belanda. Disaksikan langsung oleh Gubernur Jendaral .Nr. A.C.D. de Graeff. Bersamaan dengan itu, diserahkan pula bantuan subsidi dari Departemen Angkatan Laut pemerintah Belanda guna membantu kelancaran pengoperasian observatorium sebesar Nf 18.000, jumlah yang sangat besar saat itu. Namun, beberapa bulan setelah instalasi teleskop rampung. Kabut duka menyelimuti langit Bandung dan tatar Pasundan. K.A.R. Bosscha, preangerplanter (juragan perkebunan di tanah Priangan) yang peduli terhadap pendidikan dan kesejahteraan masyarakat tatar Pasundan itu, tidak sempat menyaksikan indahnya bintang -bintang dari observatorium yang di dirikannya. la tutup usia pada tanggal 26 November 1928, beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai 'warga utama' kota Bandung dengan upacara kebesaran yang dilaku kan Gemente Bandung di Balai kota.
untuk mengembangkan ilmu astronomi di Hindia Belanda. Atas jasa-jasanya, namanya diabadikan menjadi nama observatorium juga jalan di Bandung utara. Pada tahun 1933 Observatorium Bosscha telah berhasil melakukan publikasi internasionalnya. Namun berkecamuknya perang dunia kedua dan kemerdekaan, berakibat pada rusaknya Observatorium Bosscha. Akhirnya dihentikan sementara. Bahkan, Direkturnya A. de Sitter, putra Direktur observatorium di Leiden yang didirikan Kakek 'Ru' Bosscha, ditawan dan meninggal di kamp interniran Jepang di Cimahi. Selepas perang, karena mengalami banyak kerusakan, berusaha diperbaiki oleh CH. Hins dan astronom GB. Van Albada atas perintah Prof. Dr.Jan Hendrik Oort astronom Leiden Belanda yang peduli terhadap kelangsungan Observatorium Bosscha. Berkat usaha keras mereka dan berbagai pihak lainnya, Observatorium Bosscha berhasil dioperasikan kembali secara normal. Tanggal, 17 Oktober 1951, NISV menyerahkannya pada pemerintah RI. Setelah Institute Teknologi Bandung berdiri tahun 1959, Bosscha menjadi bagian dari ITB. Sejak itu, Bosscha berfungsi sebagai lembaga penelitian dan pendidikan formal Astronomi di Indonesia, yang kemudian melahirkan astronom senior Indonesia, seperti; Prof. Bambang Hidayat.
Observatorium Kelas Dunia Observatorium Bosscha berdiri di atas tanah seluas 6 hektar. Berada pada salah satu anak pegunungan Tangkuban Perahu, dengan ketinggian 1300 m di atas permukaan laut, memiliki pemandangan yang lepas dari arah timur, barat atau pun selatan. Serta memiliki udara yang sejuk dan tenang (saat itu jauh dari keramaian kota) jaraknya sekitar 15 km ke utara dari pusat kota Bandung. Tanah ini adalah buah kemurahan hati dari Ursone bersaudara, pemilik PT. Baroe Adjak dihibahkan untuk observatorium yang awalnya bernama Bosscha Strennwach. Di lokasi sama, sebelumnya telah berdiri stasiun Metreologi tempat penentuan koordinat di bumi, berdiri tahun 1895. Bekas perlengkapannya, seperti tower dan instalasi lainnya masih bisa disaksikan meski sudah tidak berfungsi lagi. Bagi Dr. Dhani Herdiwijaya, di awal kelahiranya Observatorium Bosscha memiliki fungsi unik. "Uniknya karena antara Amerika Selatan dan Australia tidak ada peneropongan bintang. Setiap wilayah memiliki objek bintang yang berbeda. Misalnya; bintang di Belanda, khusus untuk Belanda, begitu pun dengan di Indonesia. Alasan inilah yang membuat Mr. Bosscha dkk sangat termotivasi menyelidiki bintang dan objek langit di selatan Iainnya. Bosscha adalah peneropongan bintang kelas dunia di zamannya, dengan fasilitas lengkap. Tujuannya untuk bersaing dengan observatorium lainnya di dunia. Perpustakaannya saja, memiliki koleksi paling lengkap. Seluruh jurnal tentang peneropongan dan ilmu astronomi ada di sini". terang lulusan Astronomi ITB ini . Fasilitas di Lingkungan Bosscha Setelah 80 tahun lebih usianya, kondisi kompleks peneropongan Bosscha relatif tidak berubah, seperti awal diresmikan. Bangunan kantor dan perpustakaan lengkap dengan kamar mandi, kamar gelap fotografi juga kamar pencatatan objek di sebelah selatan nyaris tak ada yang berubah. Begitupun rumah dinas Kepala Bosscha di sampingnya, terlihat asli diteduhi kerindangan pohon dan tanaman tumbuh di halaman yang luas. Di belakang kantor dan rumah dinas kebarat, terdapat bangunan rumah tempat bermalam para pengamat. Juga deretan rumah-rumah petak tempat pegawai observatorium tinggal bersama keluarganya. Yang terlihat baru adalah deretan rumah-rumah, dibangun penduduk di atas tanah milik observatorium sejak era reformasi tahun 1998 lalu. Di depan kantor terpisah jalan, tiga buah bangunan bersambung digunakan sebagai bengkel perbaikan, souvenir shop dan balai pertemuan berkafasitas 40 orang, sekaligus tempat presentasi dan menyimpan berbagai miniatur teropong. Juga patung dada K.A.R. Bosscha, pemberian Ratu Belanda, Wihelmina. Sebelumnya berada di atas tugu peresmian yang berada di luar, depan pos jaga observatorium . Teropong di Boscha 'Si tua keladi' Doble refraktor Zeiss Teropong berusia 77 tahun ini masih berfungsi dengan baik, sering digunakan penelitian astronomi, khususnya astrometri seperti; Orbit bintang ganda visual, imaging atau pengamatan citra detail komet terang, dan oposisi planit untuk Mars, Saturnus dan Jupiter. Digunakan untuk pendidi kan mahasiswa dan penelitian astronomi. Berbobot 17 ton, bangunan kubah nya bisa diputar ke segala penjuru arah dengan jendela yang bisa dibuka selebar 3 meter, menjangkau objek langit dengan ketinggian lebih dari 20 derajat di seluruh sektor azimut. Lantai teleskop dapat dinaik turunkan dengan daya listrik 10000 watt, untuk memudahkan pengamatan. Kubahnya berbobot 56 ton berdiameter 14.5 meter. Bagian luarnya dari baja setebal 2 mm, dalamnya menggunakan asbes. Dan digerakan daya listrik 1500 watt. Bangunan ini, juga kompleks peneropongan Bosscha, dirancang arsitek kenamaan kota Bandung saat itu, KCPW. Schoemaker.
Teleskop Banberg Tersimpan dalam bangunan beratap setengah silinder yang dapat dibuka dan ditutup, banyak digunakan untuk pengukuran fotometri gerhana bintang, juga untuk pendidikan publik, melihat citra kawah bulan, bintang ganda visual, planet juga benda langit lain.
Teleskop Schmidt-Bimasakti Teropong ini ditemukan Benhard Schmidt tahun 1930. Keunggulan teropong ini terletak pada kecepatan nya dalam memotret objek langit, karena itu sering disebut kamera langit cepat. sangat ideal untuk kegiatan survey langit, dan paling peka terhadap cahaya dan polusi cahaya
Teleskop Goto Teleskop berjenis reflector Cassegrain dilengkapi system computer, dipasang tahun 1989. Teropong ini, sedang dalam perbaikan karena mengalami kerusakan. "Teropong ini sudah bisa kita perbaiki, hanya tinggal melakukan penyesuain software-nya saja". Jelas nya bangga, karena negara ASEAN lain belum bisa memperbaikinya.
Teleskop Unitron Teropong refraktor dengan lensa obyektif berdiameter 102 mm dan panjang focus 1500 mm. sangat tepat untuk pemotretan bulan dan matahari. Beratnya relatif ringan, sangat baik untuk keperluan ekspedisi pengamatan gerhana matahari dan bulan.
Mengembangkan peran 82 tahun di usianya kini, Observatorium Bosscha terus berupaya melakukan pengembangan, salah satunya pengembangan ke visual observatory lewat internet menggunakan fiber optik. Untuk pendidikan, menggalakan Olimpiade Astronomi untuk SMP dan SMU, guna meningkatkan kemampuan di bidang astronomi. Di tingkat Universitas, dikembangkan jaringan kerja sama antar kampus di Indonesia dan dibukanya program Magister (S2) dan S3 untuk astronomi. "kami sedang berusaha mengembalikan Bosscha ke level dunia lagi. Sistemnya, dengan mengundang orang luar datang ke sini". Ujar Dhani. Bosscha juga berencana membangun teleskop kelas ASEAN (2 meter) dan teleskop Radio menggunakan gelombang radio untuk mengamati objek langit yang lebih jauh lagi. Bagi Dhani "Dunia astronomi itu penelitian dasar, tapi aplikasi ke masyarakat masih kecil. Kita terdorong melakukan perubahan, apalagi ranking Indonesia untuk matematika dan fisika mengkhawatir kan. Riset dasar sangat dibutuhkan, karena pengaruhnya ke ekonomi sangat besar, misalnya lewat penemu an teknologi. Pemahaman kita terhadap alam semesta sangat bergantung pada teknologi, kalau SDM kits paspasan akan menyulitkan. Makanya bidang astronomi di Indonesia, harus maju, karena potensinya sangat besar". Jelasnya
Butuh dukungan banyak pihak Untuk mewujudkan semuanya, tentu nya membutuhkan dukungan banyak pihak. "Dukungan yang paling dibutuh kan Bosscha adalah kondusifnya lingkungan di sekitar peneropongan. Agar pengamatan obyek di langit tidak terganggu. Sementara kini, pembangunan kawasan Bandung Utara sangat mengancam keberadaan Observato rium Bosscha. Polusi cahaya dari kota Bandung pun berpengaruh bagi Bosscha. Tugas kami mengelola Bosscha sangat berat, Kami hanya mengandalkan dana dari kunjungan (setahun sekitar 50 ribu orang) Selebihnya bantuan dari LKBF di Belanda, untuk buku-buku mutakhir, jurnal atau pun program pertukaran astronom". Ungkap Dhani.
Meskipun tidak memberikan bantuan pendanaan, peran pemerintah mengendalikan pembangunan, khusus nya Bandung utara menjadi sumbangan besar, guna terciptanya lingkungan kondusif bagi kelangsungan peneropongan Bosscha. Sekaligus bukti, kalau pemerintah ataupun masyarakat peduli dan turut memiliki Observa torium Bosscha. Sebuah cagar budaya bernilai tinggi, tidak hanya tempat wisata sejarah, tapi juga ilmu pengetahuan dan ruang angkasa yang ber guna bagi kelangsungan generasi penerus bangsa. Dan hal itu, bukanlah hal paling sulit untuk diwujudkan, bila dibanding para pendiri observatorium Bosscha dulu, seperti ditunjukan Karel Albert Rudolf Bosscha yang ma'syur itu. Padanya, kita selayaknya berkaca!
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bosscha Observatory Then and Now Written by Ramdan Depp2 Dalam Majalah Halo Bandung Volume 1 Februari 2005 Add as favourites (20) | Quote this article on your site | Views: 1392
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |