header image
Home arrow Berita Sebelumnya arrow Articles arrow Arsitektur Bersejarah dan Citra Kota Bandung
Arsitektur Bersejarah dan Citra Kota Bandung PDF Print E-mail
Written by DR. Dibyo Hartono.IAI   
Jun 21, 2007 at 03:16 PM
Rencana Bandung Menjadi Ibukota dan Pusat Militer Awal Abad 20
Pembangunan kota Bandung yang cepat dan intensif awal abad ke-20 terjadi karena Otonomi Pemerintahan Kota tahun 1906, dan rencana pemerintah Hindia Belanda untuk menjadikan kota “Bandung sebagai Ibu Kota serta Pusat Komando Militer”. Untuk maksud tersebut pemerintah memindahkan Departemen Peperangan (Departement van Oorlog) dari Weltevreeden (Jakarta Pusat) ke kota Bandung, dengan membangun Pusat Komando Militer yang oleh masyarakat Sunda disebut Gedong Sabau, karya V.L. Slors tahun 1913. Dalam kompleks baru ini dibangun pula Istana Panglima Pasukan yang kini menjadi Markas Kodam III Siliwangi, karya bersama kakak beradik Richard Schoemaker dan Wolff Schoemaker tahun 1918. Rencana pemindahan ibukota juga didukung oleh pemindahan kantor pusat Jawatan Kereta Api ke kota Bandung, ke bekas gedung Grand National Hotel di jalan Perintis Kemedekaan.pada tahun 1916. 
Untuk memindahkan departemen dan instansi pemerintah (Gouvernement Bedreijven) dari Batavia, disediakan tanah seluas 27.000 m2 untuk dibangun Gedung Sate dengan arsitek Gerber tahun 1920-1924. Sedangkan untuk menampung karyawan juga direncanakan membangun sekitar 1500 rumah.
Dalam rangka mengantisipasi kehidupan kota yang terus meningkat dan perluasan kota yang terus berkembang, pemerintah kota pada tahun 1930  menugaskan kepada Prof Ir. Kasten untuk membuat rencana pembangunan dan perluasan kota, yang kemudian dikenal sebagai “Karsten Plan”. Rencana tersebu dituangkan dalam konsep tata ruang kota dengan halte kereta api, pasar, kawasan industri dan sarana lainnya yang memperlihatkan keseimbangan antara pembangunan kawasan timur kota dengan pembangunan kawasan barat kota.  Sedangkan kawasan utara kota direncanakan untuk perluasan perumahan masyarakat Eropa.
Dengan iklim kota Bandung yang nyaman seperti di daerah Perancis Selatan, dan rencana serta pelaksanaan pembangunan kota yang sangat sempurna dan modern, jumlah masyarakat Eropa yang ingin hidup di kota Bandung tahun 1941 mencapai jumah 30.000 orang.

ART DECO DAN MASUKNYA PENGARUH ARSITEKTUR MODERN BARAT
Awal arsitektur modern kota Bandung banyak yang menampilkan perpaduan antara budaya Timur dengan budaya Barat, yang oleh sejarawan disebut sebagai “arsitektur Indo-Eropa”. Perpaduan tersebut juga terlihat pada karya-karya kelompok Arsitek Hindia Belanda NIAK (Nederlands Indie Arsitectuur Krink), seperti Maclaine Pont, C.P. Wolff Schoemaker, F.J.L. Gheijsels dan lain sebagainya.
Arsitektur modern sebelum Perang Dunia Pertama dimulai dengan adanya pengaruh Art Nouveau yang banyak menampilkan keindahan plastisitas alam, kemudian dilanjutkan dengan pengaruh Gaya Art Deco yang lebih mengekspresikan kekaguman manusia terhadap kemajuan teknologi. Konsep tersebut kemudian dimanifestasikan kedalam media arsitektur dan seni, serta gaya hidup manusia. Dari hasil penelitian sejarah perkembangan arsitektur modern tersebut, kota Bandung memperlihatkan kualitas dan kuantitas peninggalan Arsitektur Modern yang paling kaya, dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Arsitektur Art Deco yang berkembang antara kedua Perang Dunia, memiliki ciri-ciri elemen dekoratif geometris yang tegas dan keras, sejalan dengan karya kelompok arsitek Amsterdam School dari Negeri Belanda.  Karya Wolf Schoemaker yang memiliki pola dekoratif seperti tersebut di atas diantaranya adalah Hotel Preanger, dengan pola dekoratif yang sering disebut sebagai “Geometric Deco”.
Dalam dasawarsa keempat, kota Bandung juga masih banyak meninggalkan karya-karya arsitektur yang semakin modern dan sangat unik.  Gaya pertama adalah bangunan dengan bentuk kubistis dan plastis, serta elemen dekoratif garis-garis lurus yang tumbuh dari struktur horizontal dan vertical beton, yang dikenal sebagai “Straightline Deco”.  Dua buah karya Brinkman memperlihatkan konsep desain serupa adalah Singer Building di jalan Asia Afrika yang telah dibongkar tahun 1992, dan Vila Han En Khan yang sekarang digunakan oleh Psikologi Angkatan Darat di jalan Sangkuriang, Tiga Vila dan Vila Tiga Warna di Jalan H. Juanda, dan Hotel Homann karya A.F. Aalbers tahun 30-an, adalah gaya bangunan yang semakin plastis dan sederhana (minimalis).  Sharp Building dan Rumah Potong Hewan di jalan Arjuna, serta Rumentang Siang di Jalan Baranang Siang. juga menampilkan gaya akhir modern (late modern) yang unik. Bangunan-bangunan tersebut saat ini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan karena ada yang sudah dijual kepada pengembang (F.5) dan akan dijadikan Mall. Masih sangat banyak bangunan dan lingkungan yang diperkirakan menjadi bahan lirikan pengembang, yaitu Gudang Kereta Api, bekas Pabrik Gas Negara (F.6) dsb

Menghilangnya Aset Bangunan Bersejarah Kota Sejak Tahun 60-an
Saat ini masih terdapat berbagai pihak yang kurang memperhatikan aset sejarah budaya, dan melakukan terus pembongkaran berbagai bangunan bersejarah di kota Bandung. Pembongkaran terjadi akibat keinginan menggebu Pengembang dalam membangun Mall, Super-Mall, Super-Market dan Factory Outlet, yang juga merupakan salah satu faktor penyebab semakin buruknya tata ruang kota, dan menurunnya citra sejarah kota Bandung.  
Hampir seluruh gedung bioskop gaya Art Deco yang sangat unik di kota Bandung telah musnah, dan berubah menjadi Ruko atau Pusat Perbelanjaan yang kurang bermutu, sehingga telah menurunkan citra keindahan kota Bandung. Beberapa contoh yang telah hilang tersebut diantaranya adalah Bioskop Oriental (F.1) yang telah dibongkar tahun 60-an, dan gedung Bioskop Elita (F.2) yang telah hilang pula tahun 70-an, Begitu pula Preanger Theater, Braga Sky dan lain sebagainya, juga sudah tidak tampak lagi. Padahal seluruh bioskop tadi telah menjadi lambang keikut sertaan Indonesia dalam percaturan teknik perfilman dunia.  
Pembongkaran tanpa ijin bangunan bersejarah yang dilakukan pengembang akhir-akhir ini, seperti rumah keluarga  Wiranata Kusuma (F.3) dengan gaya “straightline deco”, dan sebuah rumah milik Departemen Sosial (4) di jalan Ciumbuluit yang telah menjadi satu-satunya contoh “Nautical-Deco” (Art Deco Kapal) sisa-sisa sejarah pembangunan kawasan Bandung Utara tersebut, memperlihatkan contoh rendahnya pengetahuan budaya dan etika pengembang.
Contoh-contoh tersebut merupakan sebagian kecil dari sekian banyak Aset Sejarah Kota, yang menjadi bagian dari proses menghilangnya jejak sejarah kota Bandung.  Menghilangnya kekayaan Art Deco di kota Bandung tersebut, juga merupakan sebagian dari proses hilangnya benang merah yang menghubungkan sejarah pembangunan budaya masa lalu, masa kini, dengan masa depan yang bermanfaat dan mejadi kebanggaan generasi penerus. Sehingga dengan menghilangnya begitu banyak bangunan bersejarah tersebut, akan hilang pula akar gaya minimalis yang sedang menjadi trend desain masa kini.

Kesimpulan
1. Bandung adalah benar-benar merupakan kota laboratoriumnya arsitektur yang mulai memerlukan perhatian semua pihak, agar citra sejarah pembangunan tetap tampil dengan baik.
2.  Bangunan militer lama, masih banyak yang terawat dengan baik, sangat memberikan harapan yang bagus bagi masa depan konservasi arsitektur kota.  Revitalisasi yang terencana dengan baik, perlu bagi masa depan citra kota.
3.  Citra Bandung sebagai kota Art Deco perlu dibanggakan dan dipertahankan oleh semua pihak, karena dunia telah banyak mengetahuinya dan tertarik untuk datang serta melihatnya.
4.  Aset Negara adalah milik bangsa, menjual belikan seharusnya tidak dibenarkan.  
5. Generasi muda membutuhkan lebih banyak sarana belajar, perpustakaan, pusat mengembangkan kreativitas, inovasi teknologi dan budaya yang lebih baik serta lebih banyak, bukan hanya perlu Mall dan ruko. Para pengembang perlu lebih sadar tentang hal ini.
--------------------
Artikel ini sempat di publikasikan di Syrat Kabar Kompas Kolom Desain pada Tanggal 21 April 2006.
--------------
Penulis Dr. Dibyo Hartono
Ketua Bidang Lingkungan Alam dan Binaan
Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung
Bandung Society for Heritage Conservation
----------------

Add as favourites (32) | Quote this article on your site | Views: 2468

Comments (1)
RSS comments
1. Written by ai on 20-04-2008 19:09 - Guest - IP: 202.152.10.252
 
 
javascript:ac_smilie(':)') 
javascript:ac_smilie(':)') 
tau tentang struktur bentang lebar g?
 

Write Comment
  • Please keep the topic of messages relevant to the subject of the article.
  • Personal verbal attacks will be deleted.
  • Please don't use comments to plug your web site. Such material will be removed.
  • Just ensure to *Refresh* your browser for a new security code to be displayed prior to clicking on the 'Send' button.
  • Keep in mind that the above process only applies if you simply entered the wrong security code.
Name:
E-mail
Homepage
Title:
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



Code:* Code
I wish to be contacted by email regarding additional comments

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

Login Form
Username

Password

Remember me
Password Reminder
No account yet? Create one
Who's Online
We have 21 guests online
Support
Admin :
Info


 
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA (Pasal 1 ayat 1)
1. Benda Cagar Budaya adalah: Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50(lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

2. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya

Jadwal Sekretariat

Buka Kantor : Senin s/d Sabtu 09.00 - 16.00 Wib (dianjurkan untuk telepon terlebih dahulu)

Konsultasi; permohonan Surat Rekomendasi : Setiap Hari Rabu minggu ke 2 dan ke 4

Surat Rekomendasi  yang kami keluarkan, tanpa biaya sedikitpun, dilandasi oleh dedikasi yang tinggi, sebagai sumbangsih Bandung Heritage terhadap Kota Bandung.