
Alun -alun (City central square) secara tradisional merupakan pusat sebuah kota tradisional Indonesia. Cikal - bakalnya mulai muncul semenjak pembangunan ibukota kerajaan terbesar Majapahit, Trowulan, pada abad ke - 14. Alun-alun adalah inti demokrasi kota; disini semua lapisan masyarakat kota bisa bercampur-baur tanpa ada pembedaan tertentu. Tradisi Jawa bahkan mengenal 'pepe', semacam aksi demonstrasi dimana rakyat yang merasa teraniaya akan duduk menjemur diri di tengah alun-alun dan akan tetap melakukannya sampai mendapat kesempatan bertemu dengan penguasa untuk menyampaikan permasalahannya.
Alun-alun Bandung dibangun sekitar tahun 1811, segera setelah pemindahan ibukota dari Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke Cikapundung, satu tahun sebelumnya. Lokasi yang baru ini terletak tepat di pinggir Jalan Raya Pos (de Groote Postweg) yang dibangun Belanda pada tahun 1811 untuk membendung serangan Inggris. Sebagai sebuah kota dibawah kekuasaan Belanda, selain keempat elemen inti diatas, Belanda kemudian menambahkan pula beberapa elemen yang lain: sebuah benteng (loji) di sisi utara __menggantikan balai kota ('bale bandung'), sebuah penjara, kantor pos, kediaman resmi Asisten Residen, serta barak militer di arah barat.
Alun-alun di Jawa Barat memang lebih berfungsi sebagai sarana hiburan masyarakat daripada sebagai tempat menyatakan kekuasaan. Semenjak runtuhnya kerajaan Hindu Padjadjaran di abad ke-15, posisi penguasa lokal Priangan tidak pernah dominan; itulah sebabnya, alun-alun di Priangan tidak pernah didominasi oleh kehadiran keraton sebagaimana bisa kita temukan di Jogjakarta dan Solo. Masjid-masjid Agung di Priangan bahkan memiliki otonomi besar yang tidak bisa ditemukan di kedua daerah di atas; di kedua daerah itu, pengurus masjid berada di bawah pengaturan Keraton. Di Priangan dulu, bahkan kebersihan alun-alun dipercayakan kepada pengurus Masjid Agung. Barangkali itulah sebabnya, ketika pada tahun 2002 Masjid Agung Bandung melakukan perluasan yang mengambil seluruh wilayah alun-alun, hampir tidak ada protes yang berarti dari warga kota.
Pendopo
Paviliun terbuka ini adalah Pendopo, sebuah bangunan dimana traditionally rakyat bertemu dengan penguasa atau Raja untuk mengungkapkan permasalahan negara. Dibangun segera setelah pemindahan ibukota Priangan dari Krapyak ke Cikapundung (tahun 1810-1812), bangunan ini masih bisa mempertahankan keaslian gaya tradisionalnya hingga sekarang. Di bagian belakang pendopo __dipisahkan oleh sebuah tembok__merupakan kediaman Bupati Bandung di masa lalu. Para 'Aria' (pembantu Bupati) tinggal disekitarnya. Kini bangunan ini menjadi tempat menggelar peristiwa-peristiwa kebudayaan dan penerimaan tamu-tamu penting.
Masjid Agung
Masjid Agung ini sekurang-kurangnya telah mengalami perombakan dan perubahan bentuk hingga tujuh kali. Sebagai sebuah keharusan dalam setiap pusat kota tradisional, bangunan Masjid Agung bergaya modern ini aslinya dibangun tahun 1812, berupa sebuah bangunan bambu beratapkan rumbia. Setelah kebakaran besar tahun 1825, masjid ini kemudian berangsur angsur diperbaiki dengan menggunakan kayu dan kemudian tembok sebagai bahan utama. Mengikuti bentuk masjid-masjid tradisional, atap bangunan ini pun aslinya berbentuk kerucut ('bale nyungcung'). Pada tahun 1955 __untuk menyambut Konferensi Asia Afrika__ Bung Karno (yang terobsesi dengan masjid-masjid beratap kubah gaya Timur Tengah) memerintahkan untuk menambahkan sebuah kubah palsu raksasa dari bahan logam yang ternyata hanya bertahan 17 tahun; tahun 1970, bentuk atapnya kembali menjadi atap kerucut yang disederhanakan. Bentuknya yang sekarang merupakan hasil perombakan besar-besaran yang dilakukan tahun 2002-2004. Dua menara setinggi 90 meter lebih kini difungsikan juga sebagai menara pemandangan bagi para turis.***