header image
Home arrow Berita Sebelumnya arrow History arrow Si Gombar
Si Gombar PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Jun 21, 2007 at 05:28 PM
Article Index
Si Gombar
Page 2
Page 3

 kareta

Naik kereta api, tut tut tut,
Siapa hendak turut
Ke Bandung, Surabaya,
Bolehlah naik dengan percuma,
Ayoh kawanku lekas naik,
Kretaku tak brenti lama.
(Nyanyian Murid S.D.)

Ada beberapa faktor penyebab yang telah mempercepat kebangkitan Kota Bandung jaman baheula. Sebagaimana telah disinggung di depan, pembukaan daerah perkebunan di Wilayah Priangan, adalah salah satu faktor pendorong perttimbuhan Kota Bandung.
Tidak kurang pentingnya sebagai faktor akselerasi, adalah pemasangan rel kereta api dari Batavia ke Bandung, lewat Bogor dan Cianjur yang diresmikan pada tanggal 17 Mei 1884, tepat seabad yang lalu. Pada tahap berikutnya, hubungan kereta api dilanjutkan menuju Cilacap dan kemudian ke Surabaya lewat Yogyakarta.

Jadi pada masa lalu, perjalanan dengan menggunakan kereta api dari Batavia ke Surabaya, harus lewat Kota Bandung. Karena jalur rel kereta api lewat pesisir utara Pulau Jawa yang menyinggahi Kota Cirebon dan Semarang belum ada. Jalur rel kereta api lewat selatan lebih dulu dibangun dari pada jalur lewat utara.Hal itu jelas tercermin dalam lirik lagu anak-anak di atas. Lirik lagu tadi menyatakan ke Bandung dulu, baru kemudian ke Surabaya. Lirik lagu tersebut tidak berbunyi ke Semarang Surabaya atau ke Cirebon, Surabaya, sebab jalur K.A. memang belum lewat sana.
Agaknya, lagu "Naik Kereta Api" pada awal mulanya dinyanyikan oleh anak-anak di Jakarta (Batavia). Yang jelas ngibul dalam lirik lagu tadi adalah: "Bolehlah naik dengan percuma". Mana mungkin, orang masuk stasion saja musti bayar karcis peron.
Kalau kita sampai "kebandang" kereta api tanpa sengaja, asalkan mengantongi karcis peron, paling juga harus membayar "supplitie" (tambahan). Namun di stasion pemberhentian yang pertama kita diturunkan dari kereta.

Tanpa karcis peron di saku, dalam peristiwa semacam itu, di jaman baheula yang tertib dan keras menjalankan hukum, anda pasti bakal berhadapan dengan "hamba wet".
Repot jadinya. Kalau jaman kiwari, petugas bisa dibentak penumpang. Kedatangan jalur kereta api ke wilayah pegunungan Priangan, merupakan atraksi yang mencengangkan bagi penduduknya, terutama buat orang udik. Sampai tahun 1930-an, masih banyak kita saksikan "orang gunung" yang turun ke Bandung, berbekal nasi-timbel atau leupeutgorengan, cuma mau nonton lokomotif (Sunda: hulu kareta !) yang mereka beri nama julukan "si Gombar

Si Gombar adalah lokomotif jalur pegunungan ("Berglijn Locomotief ') yang modern dari serf nomor "D.D". Yang berarti memiliki 8 buah roda-besar di depan, berpasangan . empat-empat ("D.D"). Si Gombar buatan pabrik tahun 1924, memang ideal sekali buat melalap tanjakan-tanjakan berat , wilayah pegunungan Priangan, sambil mengangkut hasil per kebunan.

Di jembatan besi lintas rel kereta api (Viaduct) Jl. Pasirkaliki Bandung yang dibangun oleh Biro Tehnik "De Unie" tahun 1923, adalah tempat orang menunggu kedatangan si Gombar. Dan menonton lokomotif ini selagi dilangsir.
Jarang sekali orang mengungkapan dampak dari kedatangan jalur kereta api ke Kota Bandung. Bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan kota. Dan yang lebih penting lagi, apa peranan alat transpor keteta api dalam menunjang perkembangan ekonomi Kota Bandung dan wilayah Priangan pada umumnya.
Tatkala jalur kereta api yang menghubungkan Batavia - Surabaya cuma ada satu lintasan lewat selatan Pulau Jawa, maka Kota Bandung merupakan tempat "stop over", alih kereta buat para penumpang.

Dari Jakarta ke Bandung ada empat formasi kereta dalam sehari, yang dinamakan "Viugge Vier" ("Empat Cepat !"), yang mulai diadakan pada tanggai 1 Nopember 1934: Empat formasi kereta api Batavia - Bandung ini menjalani "jalur baru" lewat Cikampek Purwakarta yang ditempuh "persis tepat" dalam 24 jam !
Itulah sebabnya, dengan rasa bangga, Perusahaan Kereta Api Negara ("Staats Spoorwegen"/ "SS") memasang iklan segede gajah di koran-koran pada waktu itu dengan teks"TEN TIME VAN G.G. DAENDELS, reisde men met snellepostpaarden van Bandoeng ' naar Batavia IN 24 DAG. THANS met 'DE VLUGGE 4' IN 24 UUR!" (Lihat Iklan di Majalah, "MOOI BANDOENG", Maart 1935).
Artinya : "Pada jaman Gubernur Jenderal Daendels, orang melakukan perjalanan dengan Kereta Pos tercepat dari Bandung ke Jakarta, makan waktu 24 hari. Sekarang dengan 'Empat Cepat' cuma dalam 24 jam!" Iklan tadi titutup dengan motto : "Staats Spoor Steeds Sneller" ("4S"). Artinya : "Kereta Api Negara Selalu Lebih Cepat !"
Mungkin kalau sekarang, motto tadi berbunyi: "PJKA Selalu Cepat". "Apa iya ?

Adapun hubungan Kereta Api Bandung - Surabaya, jaman baheula, ada dua formasi kereta ekspres. Yaitu, satu formasi kereta ekspres Malam atau biasa disebut "Nacht Trein" dan yang satunya lagi adalah Ekspres Siang yang menempuh Bandung, Surabaya dalam sehari. Makanya Kereta Ekspres Siang ini dinamakan "Eendagsche" (sehari perjalanan).
Tatkala Bandung masih jadi tempat alih kereta ("stop over") buat penumpang perjalanan Batavia - Surabaya, banyak manfaat dan keuntungan yang diperoleh warga Kota Bandung.
Para penumpang kereta api yang kelelahan di perjalanan, memerlukan penginapan dan makan enak tentu saja. Maka pada tahun-tahun "belasan" itulah, tumbuh seperti jamur di musim hujan, hotel, losmen dan rumah penginapan murah di daerah sekitar Stasion Bandung. Antara lain di JL. Gardujati, JL Kebonjati, Kebon Jeruk, Belakang Pasar, Gg. Suniaraja, JL. Pasar Baru dsb. Inklusip daerah “lampu-merah" (W'TS) di selatan setasion.

Hotel yang agak lumayan sekitar Stasion Bandung tempo doeloe antara lain: "Hotel Andreas" di depan Stasion KA. dan "Grand National Hotel" (Kantor Pusat PJKA sekarang ! ) yang khusus diperuntukkan bagi Penggede Belanda.
Meningkatnya kegiatan pada sektor "perhotelan" di Kota Bandung, merupakan salah satu dampak dari kedatangan jalur kereta api ini.
Dampak lainnya yang tidak kurang membawa keuntungan kepada masyarakat Kota Bandung tempo doeloe, adalah makin banyaknya restaurant, rumah makan, warung nasi,
Toko P & D dan jenis    lainnya. Memang sebenarnyalah Kota Bandung pada masa sebelum Perang Dunia II terkenal sebagai kota yang paling banyak memiliki Rumah Makan (Lihat : Japen Kobes Bandung, "Pedoinan Kota Besar Bandung", 1956).

Sedangkan "Pasar Baru" yang terletak di pusat kota, tidak terlalu jauh dart stasion, di jaman baheula jadi pangkalan manusia 'kalong' yang suka begadang malam. Pasar Baru buka secara non-stop 24 jam. Segala jenis makanan mentah maupun matang ada di situ. Pasar yang tak pernah tidur itu, terjaga kebersihan dan keamanannya berkat penanganan Tuan Van Broeks yang galak. Belanda totok dengan wajah merah, macam udang rebus itu, adalah Kepala Pasar yang sangat dipatuhi oleh para pedagang. Sehingga Pasar Baru pada masa sebelum perang, pernah menjadi contoh dalam kerapian mengatur dagangan dan kebersihan bagi pasar-pasar induk lainnya di kota-kota Pulau Jawa.

Buat mereka yang suka mengudap jajan makanan, Pasar Baru tempo doeloe sanggup memuaskan selera. Lewat penuturan Pak Suka bisa kita ketahui bursa makanan tempo doeloe itu.

Soto, yang dua sen semangkok itu, sudah terkepung krupuk Cikoneng, ya besar ya tebal. Sate sepuluh tusuk masih bisa ditawar sampai delapan sen. Kalau dagangan lagi sepi,
tiga benggol pun jadilah.

Sedangkan nasi, harganya lima sen sepiring sudah tumpah ruah kuahnya. Beli nasi putih saja, bisa gratis disiram gulai tempe pakai cabai yang terasa serehnya. Atau mau pilih sayur kentang pakai irisan tahu yang tercium bau petenya, itu pun boleh. Lonjoran cabe hijau dibumbu "besengek" bisa juga mengantar nasi lewat tenggorokan. Ini pun masih ditambah sekerat daging empal yang disayat miring disiram kuah "mabek kelewek". Berbagai macam sayur ditampung dalam baskom besar, diciduk dengan ciduk kaleng gagang bambu.


Login Form
Username

Password

Remember me
Password Reminder
No account yet? Create one
Who's Online
We have 26 guests online
Support
Admin :
Info


 
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NO.5 TAHUN 1992 TENTANG BENDA CAGAR BUDAYA (Pasal 1 ayat 1)
1. Benda Cagar Budaya adalah: Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50(lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

2. Situs adalah lokasi yang mengandung atau diduga mengandung benda cagar budaya termasuk lingkungannya yang diperlukan bagi pengamanannya

Jadwal Sekretariat

Buka Kantor : Senin s/d Sabtu 09.00 - 16.00 Wib (dianjurkan untuk telepon terlebih dahulu)

Konsultasi; permohonan Surat Rekomendasi : Setiap Hari Rabu minggu ke 2 dan ke 4

Surat Rekomendasi  yang kami keluarkan, tanpa biaya sedikitpun, dilandasi oleh dedikasi yang tinggi, sebagai sumbangsih Bandung Heritage terhadap Kota Bandung.