Konon termasuk royal, orang yang minta nasi saja dan memilih sendiri, lauk pauknya. Tinggal ambil asal bayar : telor-asin, goreng ikan emas yang tidak dikeluarkan isi-perutnya biar kelihatan kembung, goreng belut atau ikan tawes, dendeng, telor mata sapi dibumbu bali, tahu,tempe dan semur jengkol bagi yang suka. Di ujung batang pikulan, menjurai ikatan daun lalab dan rebus/bakar pete yang harganya sebenggol sepapan.
Tipu daya pedagang sudah dikenal orang.Yang lucu. tukang, jual tomat, Meskipun mata terpejam, tidur-tidur ayam, tapi tangan tetap mengelus-ngelus tomat, dagangannya dengan sehelai sapu tangan, biar mengkilap menarik mata pembeli. Lain lagi dengan tukang dagang buah mangga, yang sibuk memupur kapur dagangannya, biar nampak seperti mateng pohon.
Begitulah gambaran kehidupan malam di Pasar Baru Bandung jaman baheula, yang selalu begadang. (Baca: Buku Bacaan Sunda,”Kandaga” Seri B., 1957).
Jadi buat musafir kelana yang kemalaman di Bandung pada jaman dulu, mereka tak perlu kuatir kelaparan. Mereka bisa mampir Pasar Baru atau masuk Feestterrein (Taman Hiburan Rakyat) di Alun-alun Bandung yang menyajikan segala macam hiburan dan makanan, semalam suntuk.
Lapisan masyarakat Kota Bandung lainnya yang kecepretan rejeki dengan singgahnya kereta api adalah para kusir sado, delman dan kretek yang kala itu pegang peranan di jalanan. Bunyi pluk-plik-plok plik-pluk dan ting-neng ting-neng, adalah suara khas Bandung baheula. Terkadang suara itu diseling bunyi, dodolit-dodoli-bret yang berasal dari tuter Mobil Kuno yang mulai berkeliaran.
Patut dicatat bahwa pada tahun 1884, mula pertama. hubungan K.A. dibuka di kota, jumlah penumpang yang turun-naik lewat Stasion Bandung, selama setahun 32.000 orang penumpang. Dengan jumlah angkutan barang (bagasi) seberat 9.250 ton.
Tigapuluh tahun kemudian (1914), banyak penumpang per tahun 1.307.000 orang, dengan muatan barang sebesar 244.700 ton (H.LH., "Almanak Voor Bandoeng", 1941). Angka-angka di atas cukup berbicara, akan besarnya peranan kereta api bagi hubungan Kota Bandung dengan daerah luar.
Pemasangan jalur rel kereta api ke Priangan besar sekali dampaknya terhadap perkembangan ekonomi Kota Bandung dan wilayah sekitarnya. Terutama sekali setelah beberapa jalur simpang K.A. dibangun untuk menghubungkan Bandung dengan beberapa kota kecil yang terletak di "hinterland" sekelilingnya.
Pemasangan rel K.A. ini sebenarnya dititik-beratkan pada fungsinya sebagai 1. Alat angkutan hasil produksi perkebunan Wilayah Priangan, yang kala itu menjadi barang komoditi ekspor yang laku keras di pasaran dunia. 2. Sarana pendukung dalam rencana pemekaran wilayah Gemeente Bandung di tahun 1919.
Sebagaimana diketahui, hasil produksi utama onderneming di sekitar Bandung, adalah teh, kina, kopi dan karet. Pada jaman kolonial, wilayah West Java (Jabar) merupakan daerah pilihan lokasi perkebunan jenis tanaman ekspor. Sejak berlakunya U.U. Agraria tahun 1970, yang mengakui hak milik tanah Bangsa Indonesia maupun Pemerintah Kolonial Belanda, maka Jawa Barat kala itu memiliki lebih dari 80% perkebunan teh dan kopi yang ada di Indonesia. Bahkan perkebunan kina seluruhnya terdapat di Priangan (N.H.M., "Handboek voor Cultuur-Handelsondernemingen in Nederlandsch-Indie", 1940).
Mengingat besarnya potensi ekonomi perkebunan di Wilayah Priangan, sebagai salah satu sumber pendapatan negara, maka daerah itu telah mendapat prioritas utama dalam pembangunan jaringan rel kereta api. Kota Bandung baru mendapatkan statusnya sebagai "Gemeente" pada tanggal 21 Pebruari 1906 dan Burgemeesternya yang pertama Tuan B. Coops yang terpilih pada tanggal 1 Juli 1917.
Sebagaimana telah dikisahkan, sebelum Kota Bandung memiliki seorang walikota (Burgemeester), pengelolaan kota dipimpin oleh seorang Asisten Residen Priangan.
Di bawah pengelolaan Meneer B. Coops sebagai walikota (1917-1928), Bandung mengalami masa pembangunannya tahap ke-2, setelah jaman Pieter Sijthoff yang meninggalkan Bandung pada tahun 1904.
Selang beberapa tahun setelah Gemeente Bandung diresmikan, Pemerintah Pusat Hindia Belanda di Batavia, telah membentuk "Commissie voor de Beoordeeling van de Uitbreidingsplannen der Gemeente Bandoeng" (Komisi Untuk Penilaian Terhadap Rancangan Pemekaran Gemeente Bandung) yang diketahui oleh Meneer E.H. Karsten (bukan Ir. Thomas Karsten). Oleh sebab itu Komisi itu sering disebut “komisi Karsten" yang terkenal dengan "Plan Karsten" yang berupa sebuah konsep "Rancangan Pemekaran Kota Bandung" dalam tiga macam alternatip . Dalam sebuah Risalah No. 4 Tanggal 12 Agustus 1919 yang ditujukan kepada Burgemeester van Bandoeng Tuan B. Coops, telah dilaporkan hasil penelitian dan penelaahan pendahuluan Kota Bandung yang dilakukan oleh Komisi Karsten.Risalah dari Komisi Karsten tersebut menjelaskan bahwa 1. Kota Bandung yang terbagi oleh Sungai Cikapundung menjadi dua bagian; West Bandoeng (Bandung Barat) dan Oost-Bandoeng (Bandung Timur) telah berkembang dengan tidak seimbang Perkembangan kota lebih "berat" ke sebelah barat.
2.Hampir 2/3 jumlah penduduk bermukim di Bandung Barat.
3. Kegiatan perdagangan sehari-hari sangat berpusat di daerah Pecinan (Chineezenwijk) sekitar Pasar Baru. Kecenderungan pemusatan kegiatan sosial-ekonomi penduduk cuma di satu daerah saja, jelas tidak menguntungkan untuk "penataan" kota di kemudian hari.
4. Hasil penjualan ("omzet") di Pasar Baru hampir 5 kali lebih besar dari apa yang diperoleh di Pasar Andir atau Kosambi.
Laporan dari Komisi Karsten itu memperkuat "saran" yang telah disampaikan oleh Meneer H. Heetjans, Directeur van Gemeente Werken (Kepala P.U.) kepada Walikota Bandung B. Coops.
Saran tersebut yang telah disampaikan lewat Surat Rahasia ("Geheim") No. 215/Gr Tanggal 25 April 1918 menyatakan bahwa. 1. Pusat Kota Bandung secara teoritis terletak antara Pasar Baru dan Alun-Alun, kira-kira di sekitar Penjara (Banceuy). 2. Kegiatan perdagangan yang "menumpuk di pusat Kota Bandung mengakibatkan kenaikan harga tanah di sekitar Alun-Alun. Pada tahun 1918, untuk setiap 1 M2 lahan tanah di Alun-Alun mencapai harga f.40,-. Sedangkan di Kacakaca Wetan (Prapatan Lima) yang jadi batas timur Kota Bandung kala itu, harga tanah f.10,- per M2. 3. Agar segera diambil langkah untuk menyebarkan (dekonsentrasi) dari pusat-pusat kegiatan penduduk secara seimbang ke segenap penjuru kota. Sehingga Kota Bandung kelak, bakal merupakan sebuah kota yang memiliki banyak pusat kegiatan ("multi centres"). 4. Kegiatan perdagangan yang hanya berpusat di Pasar Baru harus dipindahkan dan disebar ke lokasi bare, dengan membangun beberapa pasar lainnya di dalam Kota Bandung. 5. Adapun pasar sebagai "pusat kegiatan'= penduduk, dapat dijadikan wahana untuk pemekaran Kota Bandung. 6. Untuk mengembangkan Kota Bandung secara seimbang, maka di arah timur dibangun Pasar Kosambi, Pasar Cicadas dan Pasar Kiaracondong. Untuk Bandung Baral7 dibangun Pasar Andir clan Pasar Ciroyom. Sedangkan di arah selatan kota dibangun Pasar Tegallega dan Pungkur. 7. Atas dasar "nota" dari Kepala Dines.Kereta Api dan Tram Negara (Het Hoofd ven den Dienst der Staatsspoor en Tramwegen) dapat diketahui bahwa lebih dari 80% penumpang yang turun di stasiun Bandung, adalah para "penumpang lokal" dari kota-kota kecil sekitar Bandung yang mengadakan perjalanan dengan menumpang kereta api setiap hari ("commuters"), untuk keperluan berdagang atau berbelanja ke Pasar Baru. Maka untuk mengurangi arus penumpang kereta api yang turun di Stasion Bandung dengan tujuan perjalanan ke Pasar Baru, dipilihlah alternatif ke-3 dari Rancangan Pemekaran Kota Bandung dari Komisi Karsten (Plan.III).Dalam Plan.III telah ditentukan lokasi untuk tempat pemberhentian penumpang ("Personenstation") pada jalur kereta api yang berdekatan dengan pasar, kompleks pemukiman baru, daerah industri, dan daerah pusat kerja lainnya. 8. Alternatip ke-3 Plan Karsten telah memadukan pemekaran Kota Bandung dengan pembangunan pasar, pemasangan jalur rel K.A setta penentuan nalte baru. 9. Secara berturut-turut dibangun Halte Andir untuk para penumpang K.A. yang akan menuju Pasar Andir. Halte Ciroyom untuk pengunjung Pasar Ciroyom, Halte Cikudapateuh untuk Pasar Kosambi dan daerah pemukiman baru Jl. Riau, Halte Kiaracondong untuk pengunjung Pasar Kiaracondong. 10. Bahkan bagi para penumpang K.A. yang ingin turun di daerah sekitar Insulinde Park yang tergolong sebagai "Pusat Kegiatan Masyarakat Eropa" ("Europeesche Zakenwijk" telah dibangun halte di Jl. Jawa (sekarang sudah tidak ada). Untuk penduduk sekitar "Prapatan Lima" (Ngawur, per"empat"-an koq lima!) yang memerlukan jasa angkutan kereta api, maka telah dibangun halte di Karees (JI. Gatot Subroto sekarang).