Leluhur kita banyak mewarisankan kearifan dalam segala unsur kehidupan kita. Segala hal dikaitkan dengan fungsi atau kegunaan, perduli pada lingkungan dan bila diadaptasi dari tempat lain tidak lantas diterapkan secara langsung tetapi disesuaikan dengan keadaan setempat. Hal tersebut termasuk didalamnya tata cara berpakaian. Salah satu unsur dalam pakaian yang diwariskan oleh leluhur kita, dalam hal ini khususnya dalam masyarakat Sunda, adalah iket (ikat kepala).
Budaya iket ini dibawa oleh nenek moyang kita para pendatang yang kemudian menyebar di nusantara dengan bentuk, gaya, dan fungsi yang berbeda-beda di sesuaikan dengan daerah masing-masing. Di Baduy, ikat kapala juga berfungsi lain selain menutupi kepala (dari panas dan hujan), untuk membawa kelapa atau barang-barang lainnya juga dapat dipakai untuk membalut luka, tas, handuk, tempat uang, dan fungsi lainya. Sebagai penutup kepala iket dipakai supaya lebih sopan untuk menupti kepala yang rambutnya kotor (belum cuci) agar ‘aroma’ yang ditimbulkan tidak menggangu orang lain.
Dari bentuk dapat digolongkan dalam dua , yaitu empat persegi panjang, dan segitiga. Bentuk empat persegi panjang dadlah bentuk aslinya, sedangkan bentuk segitiga adalah bentuk pengembangannya disamping pertimbangan biaya yang lebih murah. Corak batik iket bisa bermacam-macam dan masing-masing memiliki maknanya sendiri. Namun kain batik iket yang dipakai selama ini semuanya berasal dari wetan (Jawa) dan tidak ditemukan kain batik iket Sunda asli (ironis memang, bila mengingat Bandung dimana mayoritas masyarakat Sunda berada memiliki pabrik-pabrik tekstil termuka di Indonesia!).
Cara pemakaian iket berbeda di setiap daerah, tak kecuali di Jawa Barat terdapat puluhan bentuk pemakaian iket. Jaman dahulu cara pemakaian iket dapat memberi identitas pada si pemakainya, karena itu orang tidak bisa sembarang memakainya, misalynya gaya iket jawara tidak dipakai oleh orang biasa bila tidak ingin ditantang oleh jawara lainnya.
Seni memakai iket membutuhkan keterampilan tersendiri, bahkan karena butuh kreativitas dan keuletan, sering dengan perkembangan jaman yang menuntut serba cepat dan instant, membuat orang meninggalkan iket.
Dan kini bagaimana dengan kita? Sebetulnya tinggal keberanian kita saja untuk mencoba mengendalikan kecendrungan gaya dunia yang sedang berlaku saat ini. Apakah kita akan memilih iket tradisional dengan motif batik sebagai ikat penutup kepala sehari-hari…atau iket kepala ala penyanyi rock dari dunia barat sana dengan gambar bendera Inggris atau Amerika?? ------- Warta Pelestarian No.1/XIV/2000 AA