|
Semangat di kalangan penduduk muncul setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan. Di seluruh Bandung terjadi bermacam aksi pengambilalihan berbagai instansi dan instalasi penting yang masih dikuasai oleh Jepang oleh para pemuda maupun pegawai yang berbangsa Indonesia , seperti PTT, stasiun radio, jawatan kereta api, dan ACW. Dalam aksi itu tidak jarang para pemuda harus menggunakan pemaksaan apabila diplomasi tidak berhasil. Akan tetapi, pada umumnya pihak Jepang mau menyerahkan kantor secara sukarela. Setelah itu biasanya para pemuda menurunkan Hinomaru dan mengibarkan Merah Putih pada tiang bendera di depan gedung kantor.
Aksi pengibaran bendera Merah Putih ternyata tidak hanya di instasi, tetapi juga di seluruh kota. Tidak hanya menurunkan bendera Jepang, tetapi juga menyobek warna bitu bendera Belanda. Masyarakat Belanda yang baru keluar dari kamp interniran tidak mau memahami keadaan yang sudah berubah. Mereka tidak mau mengakui kedaulatan RI dan tetap saja mengibarkan bendera Belanda di beberapa gedung. Tindakan mereka itu memancing kemarahan bangsa Indonesia. Tercatat insiden penyobekan bendera Belanda di Bandung, seperti terjadi di gedung DENIS (De Eerste nederlands-Indische Spaarkas en Hypotheekbank), di jalan Braga, sekitar awal Oktober 1945, yang dilakukan dua orang pemuda , Mulyono dan Endang Karmas.
Penyobekan bendera Belanda di DENIS (sekarang Bank Jabar) dikisahkan oleh salah seorang pelakunya, Endang Karmas sebagai berikut.
“saya lagi ada di jalan Braga, masih di Jalan Asia Afrika sebetulnya. Saya (ber-)jalan dari Alun-alun. Tiba-tiba banyak orang ramai di sebelah timur itu. Saya berangkat cepat. Oh, para pemuda menyerbu DENIS. Ada apa nihh? Penasaran, ikut juga. Ada tentara Jepang yang sudah dibunuh. Barangkali Jepang itu disuruh jaga . Jaga bangunan gitu, pake rumah monyet (pos penjagaan, pen). Penjaga di sana Jepangnya itu. Jadi jelas Jepang itu digunakan oleh Belanda untuk menjaga mereka. Nah, bangsa kita yang benci kepada Belanda itu, menghina juga kepada Jepang itu. Rupanya Jepang itu juga melawan kepada bangsa Indonesia, akhirnya dipuntir. Entah mati, entah bagaimanaLalu orang Indonesia naik ke atas. Melihat naik ke atas, saya juga naik ke dalam. Di sana ada perkelahian dengan orang-orang Belanda yang berada di gedung DENIS. Saya untuk berkelahi tidak mungkin, karena waktu itu masih kecilnah, saya melihat ke atas, ke atas terus loncat, loncat ke atas ada tangga . mulai satu, dua, nak sampai ke dak(atap, pen) itu. Di dak kelihatan ada yang mengarah ke bendera. ‘Bendera!’ saya cepat sekali ke sana. Orang lain baru nunjuk, saya sudah naik ke tiang…bukan tiang itu…ke temboknya. Sampai di atas itu, lalu megang ke tiang bendera sampai naik ke atas. Ternyata berdua dengan Mulyono. ‘Mul!’ ‘Ya…trus…trus…naik!’ yang lain ada di bawah , tapi sudah diam saja di atas dak. Sudah tidak mungkin ke atas lagi, sudah paling atas. Nah, untuk bisa berdiri mengambil bendera itu, ternyata kabelnya dari besi. Kabel besi itu. Waduh, keras sekali! Ditarik-tarik tidak bisa. ‘Mul, bagaimana? ‘Coba saja!’katanya. lalu terjadi tembakan. ‘Awas dari Hotel Homann,’katanya. Wah, panik. Akhirnya tidak keburu apa-apa. Jangankan utnuk membuka bendera , untuk membawa apa-apa pun tidak ada kesempatan. Untung saja bendera itu terkulai. Saya pegang ujungnya . ‘Mul, coba ambil nih…pegang…pegang!’ Nah, saya buka bayonet Belanda, disobek-sobek saja gitu. Disobek-sobek sehingga menjadi Merah Putih lagi, tapi masih banyak birunya. Rusak gitu(kain warna birunya tercabik-cabik, pen.).”(Moh. Endang Karmas, 5 Juni 1997).
Disamping aksi pengambilalihan dan penyobekan bendera, para pemuda juga melakukan aksi perebutan senjata dari tentara Jepang. Hal itu karena sebagai kekuatan militer penjaga kedaulatan RI yang baru lahir ini belum memiliki perlengkapan persenjataan yang utuh. Pihak Jepang tidak mau menyerahkan senjatanya karena sesuai dengan perjanjian, Jepang harus menjaga status quo sampai tentara sekutu tiba di Bandung.
Pada kurun September-Oktober 1945, para pemuda pejuangdi Bandung melancarkan aksi merebut enjata Jepang. Biasanya, aksi diawali dengan perundingan untuk mencegah jatuhnya korban. Apabia tidak berhasil, para pemuda akan merebutnya melalui serangan dengan bersenjatakan apa saja. Tidak jarang pertempuran atara pejuang dan Jepang terjadi buan akibat kegagalan perundingan, melainkan oleh kecelakaan atau salah paham sehingga kadang-kadang membat kerugian besar di pihak pejuang, misalnya peristiwa bentrokan senjata di markas Kenpeitai (Polisi Militer Jepang) di heetjansweeg (sekarang jalan Sultan Agung) pada 10 Oktober 1945. Perisstiwa tersebut merupakan klimaks dari perundingan rahasia antara Mayjen Mabuchi dan Residen Priangan R. Puradiredja mengenai pengalihan senjata dari Jepang kepada BKR pada 4 Oktober 1945.
Selengkapnya, baca buku;
“Saya Pilih Mengungsi” Pengorbanan Rakyat Bandung Untuk Kedaulatan, Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Ristadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, 2002 Sumber Foto: A.F. AAlbers (1897-1961),Ondogmatisch Modernist in Koloniale Samenleving, Bibliografieen en Oeuvrelijsten van Nederlandse architecten en stedebouwkundigen, Rotterdam 2000 Add as favourites (30) | Quote this article on your site | Views: 772
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com All right reserved |