|
|
Home
|
Written by Djefry W. Dana
|
|
Tuesday, 09 February 2010 |
 Bandung, yang dahulu dikenal akan kesejukannya, terletak pada dataran tinggi yang subur berkontur dan dikelilingi oleh bukit serta pegunungan. Dengan kondisi alam yang demikian, maka tak heran dapat tumbuh beraneka-ragam tanaman, seperti yang terlihat di tepi kiri kanan jalan maupun ruang-ruang terbuka kota. Pada umumnya, suatu lingkungan yang ruang terbuka, dirancang dengan menggunakan kaidah-kaidah estetika dan memakai pola-pola geometris-simetris yang jelas, sehingga dapat membangkitkan kesan tertentu dalam benak seseorang. Bandung-khususnya Bandung Utara-bangunan, lahan, serta alamnya merupakan satu kesatuan desain yang tak dapat dipisahkan, demikian pendapat Ir. Slamet Wirasonjaya MLA, ("Kalau Bandung Gundul, Ia Brutal dan Tak Manusiawi", Pikiran Rakyat, Bandung, 11 Februari 1989) seorang arsitekperancang kota mengenai konsep rancangan dan gaya yang mengikutsertakan pepohonan dan ruang terbuka ke dalam perancangan suatu kota. Ditambahkannya pula bahwa konsep perancangan Kota Bandung yang mengagumkan tersebut sangat geometris, formalistik, dan berorientasi ke alam-yang awalnya lahir dari konsep Renaisans, yang dipengaruhi juga oleh konsep-konsep Islam tentang ruang dan waktu. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa basil rancangan Kota Bandung (Bandung Utara), yang dibangun sebelum tahun 1950an, mencerminkan perpaduan antara konsep Islam, Renaisans Romantis, dan Awal Modern.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 09 February 2010 )
|
|
|
PERTAHANKAN EKSISTENSI TAMAN KOTA! |
|
Written by Sylvie Tanaga
|
|
Tuesday, 09 February 2010 |
|
Perhatian kita tentunya belum beralih dari dahsyatnya banjir yang terjadi di ibu kota. Selain menimbulkan kerusakan ekologis dan penderitaan bagi warga, banjir ini juga mengakibatkan kerugian ekonomis yang diperkirakan berjumlah lebih dari 4,3 triliun rupiah. Bila kita rajin menyimak informasi, “tersangka utama” dari banjir ini tak lain adalah faktor alam berupa tingginya curah hujan. Namun kejadian ini juga berbicara pada sisi lain yang sebenarnya lebih memainkan peranan yang lebih vital. Salah satu di antaranya adalah sangat minimnya daerah Ruang Terbuka Hijau (RTH) akibat maraknya mutasi lahan, baik karena tingginya nilai ekonomi di perkotaan maupun karena tidak berjalannya berbagai peraturan yang mengatur tata letak ruang terbuka hijau yang dibuktikan dengan masih maraknya pembangunan di kawasan seharusnya diperuntukkan bagi wilayah resapan air. Akibatnya, air hujan yang seharusnya diserap tanah, justru tertahan dan akhirnya mengalir ke arah sungai-sungai di Jakarta. Alhasil, banjir besar pun tak terhindarkan.
|
|
|
Mengenang Kembali Gd. Singer |
|
Written by G. Aishiko Pandji
|
|
Tuesday, 09 February 2010 |
 Jika anda a) lahir dan besar di Bandung; b) saat ini berusia sekitar 65 tahunan; c) semasa muda adalah orang yang "senang bergaul"; d) memiliki rasa cinta dan keperdulian terhadap perkembangan Bandung, anda pasti masih ingat tentang Gedung Singer dan peristiwa naas yang menimpanya. Mendengar kata Singer, mungkin anda akan langsung teringat pada mesin jahit yang bisa jadi hingga saat ini masih dimiliki ibu, nenek, tante atau kerabat anda lainnya. Singer memang merupakan merk mesin jahit yang asalnya dari negeri Belanda. Kabarnya, pada masa penjajahan dulu, mesin jahit ini banyak diimpor oleh nyonya-nyonya Belanda. Selama suaminya bekerja di perkebunan, mereka hanya menganggur. Daripada ngerumpi dan bergosip, mereka mulai menyibukkan diri dengan menjahit. Mesin jahit, seperti banyak mesin lainnya, lambat laun pasti mengalami kerusakan juga. Nah, ketika hal ini terjadi, para nyonya Belanda itu pusing memikirkan kemana mereka harus mereparasi mesin tersebut. Akhirnya pada tahun 1930, dibangunlah sebuah gedung berlanggam Art Deco karya F. W Brinkman di Jalan Asia Afrika, dekat Simpang Lima. Gedung yang terkenal dengan sebutan Gedung Singer tersebut merupakan tempat reparasi mesin jahit merk Singer yang pertama dan satu-satunya di Indonesia. Bandung, mendapat kehormatan untuk memiliki gedung tersebut.
|
|
Last Updated ( Tuesday, 09 February 2010 )
|
|
|
23 Tahun Bandung Heritage |
|
Written by administrator
|
|
Monday, 01 February 2010 |
|
Bulan Februari adalah bulan kelahiran Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau yang lebih dikenal dengan nama Bandung Heritage. Berikut adalah Sejarah Singkat berdirinya Bandung Heritage : 23 Tahun Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung Pengabdian Kepada Masyarakat
Ringkasan Sejarah Berdirinya Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung/Bandung society for Heritage Conservation (Bandung Heritage)
Pada permulaan tahun 1986 beberapa orang yang satu dengan lainnya sering bertemu, mengungkapkan keperhatinannya mengenai bangunan yang berarsitektur indah dan tata ruangnya yang nampak tidak terawat. Keprihatinan ini juga ternyata juga menarik perhatian lawan bicaranya, hingga berkembang menjadi suatu bahan pembicaraan yang serius. Pembicaraan ini akhirnya menjadi suatu pertemuan rutin sebagai selingan untuk saling tukar menukar pandangan.
|
|
Last Updated ( Monday, 01 February 2010 )
|
|
| | << Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>
| | Results 1 - 5 of 36 |
|
|
Who's Online |
|
We have 2 guests online |
|